Article Detail

Intermezo - Sisca Sahabatku

Pernahkah kalian bertanya-tanya "Apakah arti persahabatan itu?" atau "Mengapa saya harus memiliki sahabat?" Pertanyaan seperti itu selalu saja merasuki pikiranku. Aku sering sekali memikirkannya di waktu luangku. Aku tidak mengerti itu semua. Pikiran yang begitu selalu berkecamuk di benakku, Terus-menerus berkecamuk dibenakku seperti memeras-remas  otakku hingga otakku bagaikan bumbu dapur yang ditumbuk-tumbuk. Sampai pada suatu saat aku pun bertemu dengan Sisca. Dari situlah kisah persahabatanku dengan Sisca dimulai. Aku yang semula tak tahu banyak perihal persahabatan dibuatnya menjadi mengerti arti sahabat.
 
Di siang hari yang cerah, aku dan keluargaku sudah bersiap-siap mengemas barang-barang untuk dipindahkan ke rumah kami yang baru. Hari itu wajahku murung. "Huff! Kenapa sih aku harus pindah rumah? Toh di sini juga sudah enak punya banyak teman!" gumanku dalam hati. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah baru, wajahku terus murung. Kulihat pemandangan di sepanjang jalan menuju rumah baru terlihat banyak pohon rindang dengan udaranya yang sejuk. Beberapa saat kemudian, sampailah aku dan keluargaku di rumah kami.
 
Saat hendak memasukkan barang-barang ke dalam rumah, kulihat seorang gadis cantik mungil berpakaian dress merah yang sedikit pendek. "Apa perlu aku kenalan dengannya? Sepertinya rumahnya berada di samping rumahku. Tapi, kalau dia tidak menghiraukanku bagaimana ya?" Pikirku dalam hati. Gadis mungil itupun melirik ke arahku. Lirikannya tajam bagaikan silet. Aku pun sedikit tercengang melihat lirikannya. Hendak kusapa. Namun ada perasaan takut yang menyelimuti diriku. Saat aku memutuskan untuk masuk ke rumah, gadis mungil itu menyamperiku. 'Hai, kamu..! Sepertinya orang baru ya? "tanyanya agak jutek. "I.. iya..." jawabku dengan nada tersendat. "Oh..! Pantas saja aku tidak pernah melihat wajahmu. Aku Sisca, siapa namamu? tanyanya masih dengan nada jutek. "Namaku Fanny. Umm... Salam kenal" jawabku dengan muka sedikit tersenyum. "Oh, ok. Salam kenal"  jawabku. "Oh.. Ok. Salam kenal...!" Jawab Sisca sambil mengarah masuk ke dalam rumahnya. "Huft..! Begitulah kenalan yang baik? Baru kenalan sudah ditinggal masuk. Tidak ada basa-basinya sama sekali!" gerutuku dalam hati.
 
Keesokan harinya aku berjalan keluar rumah menikmati udara segar di sore hari itu. Semilir angin bertiup menyelimuti dan menggelitiki bulu kudukku. Sesaat, aku merasakan udara dingin tersebut bagaikan saat aku berada di ruangan AC. "Hemm... sudah kuduga tidak ada teman yang cocok di sini. Satu-satunya orang yang seumuran denganku hanya Sisca. Tapi... masa iya aku berteman dengan gadis jutek seperti dia?" tanyaku dalam hati. Setelah selesai menghirup udara segar, aku pun masuk ke rumah. Saat aku masih ada di sekitar teras rumah, terdengarlah seorang memanggil namaku. "Fanny! Fanny! Sedang apa kamu?" tanya Sisca dari teras rumahnya. Aku pun memutar kepalaku. "Hemm, aku baru saja menghirup udara segar di luar tadi" jawabku. "Oh begitu, Fan kamu punya sepeda kan?" tanya Sisca dengan nada jutek yang sudah menjadi ciri khasnya. "Iya, aku punya. Emangnya kenapa?" tanyaku heran. "Sudah lama tidak ada yang bermain sepeda denganku. Kamu maukan bermain sepeda denganku besok sore? tanyanya dengan sedikit tidak jutek. "Boleh saja!" jawabku dengan nada gembira.
 
Suatu pagi Sisca memanggilku, "Fanny! Ayo main!" teriaknya dari luar rumahku. Aku pun bergegas keluar dengan membawa sepeda hijauku. Kulihat dia memakai sepeda berwarna biru dan gayanya yang sudah siap untuk berkeliling komplek denganku. Aku dan Sisca pun bermain sepeda. Kami menelusuri jalan-jalan di sepanjang komplek. Sisca memperkenalkan jalan-jalan di perumahan tempatku tinggal. "Huuuaaa! Sejuknya udara di sini..!" teriakku sambil menikmati sore yang indah dan sejuk saat itu. "Iya sejuk sekali" jawab Sisca dengan nada datar. Semenjak hari itu, kami terus bermain bersama, belajar bersama, dan terkadang kami saling menginap untuk bermain bersama hingga larut malam.
 
Aku kini sadar, Sisca bukanlah orang yang tidk bisa diajak berteman. Walaupun dia jutek, namun dia memiliki hati yang baik, dan siap menolongku jika aku sedang kesusahan. Sekarang aku mengerti arti sebuah persahabatan yang sesungguhnya. Tidak peduli karakter kita seperti apa yang terpenting kita dapat memberikan hati kita yang tulus untuk bersahabat dengannya. Jadi, sebelum kita tahu benar, apakah dia baik atau jahat, kita tidak boleh langsung berfikiran buruk tentangnya saat pertama kali bertemu. Sahabat itu indah bagaikan perangko dan amplop yang tidak bisa dipisahkan. bagaikan kupu-kupu dengan bunga yang saling membantu untuk kebaikan bersama.
 
By. Fanny
 
 
Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment