Article Detail

Pengorbanan Perlu Keihklasan

Indonesia merdeka oleh sekelompok orang yang telah benar-benar selesai dengan urusan dan kepentingan diri sendiri. Orang yang sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa hidup akan menjadi sangat bermakna jika mempunyai banyak manfaat bagi orang lain. Sebuah idealisme yang sekilas terlihat tidak wajar bukan! Tapi begitulah prinsip yang justru dipunyai oleh mereka yang disebut sebagai pahlawan, yang mau mengorbankan diri –jiwa raga- dan apa yang dimilikinya demi sebuah kepentingan yang lebih besar –Indonesia Merdeka- tentunya.

Padahal, jika saja ketika itu mereka memilih sejalan dengan penjajah –Belanda- mungkin mereka akan lebih bisa meraskan kenyamanan sebagaimana dinikmati oleh segelintir orang yang rela disebut sebagai Anthek Belanda, yaitu mereka yang rela melacurkan diri sebagai begundal penjajah demi hidup bergelimang harta duniawi meski harus beralaskan  penderitaan jutaan warga bangsa sendiri.  Alih-alih bergelimang dengan harta dan segudang kemewahan hidup lainnya, para pahlawan justru mengencangkan ikat pinggang, rapatkan barisan, dan siap teteskan keringat, air mata dan bahkan darah demi tegaknya sebuah idealisme besar yaitu terwujudnya Indonesia yang merdeka. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa yang sarat dengan keihklasan bukan?

Lantas, jika demikian halnya, di masa kemerdekaan sekarang ini, masih adakah celah-celah kehidupan untuk memaknai sebuah pengorbanan sebagaimana pengorbanan para pahlawan tempoe doeloe? Tentu ada dan banyak, jawabnya. Meski tak harus dengan memanggul senjata, meneteskan darah dan air mata, dan bahkan berkorban jiwa sebagaimana para pahlawan pendahulu, masih banyak sendi-sendi kehidupan di sekitar yang memerlukan pengorbanan untuk terjadinya sebuah kebaikan.

Sebut saja di sebuah komunitas sekolah misalnya. Ibaratnya sebuah bangsa, sekolah adalah miniatur bangsa. Komunitas di dalamnya sangatlah beragam.  Ada siswa, karyawan, guru dan atasan yang masing-masing memiliki fungsi dan kepentingan masing-masing. Di antara berbagai fungsi tersebut,  tak jarang masih dijumpai mereka-mereka yang cenderung bertahan dalam zona kenyamanannya dari pada bergeser untuk sebuah perubahan. Lihatlah mereka, yang saat ini sedang dalam posisi sebagai pemimpin. Di antara mereka cenderung untuk bertahan dalam zona kenyamanan atau –status quo- bersama dengan beberapa gelintir orang. Dalam beberapa periode kepemimpinan misalnya, mereka terkesan sekedar melakukan tukar guling posisi jabatan antar pejabat yang sama-sama menjabat di kurun periode sebelumnya ketimbang harus memberikan kesempatan kepada pelaku baru untuk sebuah posisi tersebut, meski sebenarnya pelaku baru tersebut memiliki talenta lebih.

Seandainya saja di antara pemimpin itu memiliki naluri berkorban dan kemudian muncul keinginan keluar dari zona nyaman demi terwujudnya sesuatu yang baru dan maju, mungkin mereka akan dengan ihklas mempersilakan pihak-pihak lain di sekitar mereka untuk mengembangkan diri dan segenap potensi mereka demi kepentingan yang lebih besar, yaitu lembaga yang diabdinya, dan bukan demi kepentingan diri semata. Tak mudah memang untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Lebih-lebih ketika keberadaan dalam zona tersebut telah berlagsung begitu lama dan nyatanya aman-aman saja tanpa adanya riak dan gejolak dari pihak-pihak di luar zona mereka. Apalagi ketika pihak-pihak di luar mereka acap kali terkesan acuh tak acuh terhadap mereka yang tentu akan semakin meninabobokkannya dalam zona mereka. Diperlukan keihklasan untuk berkorban memang agar kebaikan yang demikian bisa terwujudkan.

Atau jika yang demikian tidak terjadi, giliran pihak lain di luar mereka boleh mencari celah untuk sebuah kebaikan, bawahan misalnya. Sebagai bawahan boleh saja berinisiatif untuk memberikan kritik terhadap pemimpin yang tidak dapat menjalankan tugas dengan baik dan malah cenderung mengabaikan kebaikan secara berulang kali. Agar tidak terjadi benturan pada kedua belah pihak, tentu kritik tersebut hendaknya disampaikan dengan etikad baik dan penuh kesopanan tanpa harus mempermalukan pihak-pihak tertentu. Namun jika hal itu tidak didengar, ada hal lain yang bisa dilakukan. Biarkan mereka belajar menjadi pemimpin, berikan mereka kepercayaan dan kesempatan tanpa cerca, cela dan caci maki. Bukankah ini juga sebuah pengorbanan yang butuh keihklasan!

Berkaca pada sikap ihklas dan rela berkorban yang diteladankan oleh para pahlawan bangsa, mari jadikan itu semua sebagai dasar dalam setiap karya nyata dan kerja bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama demi  kemajuan sekolah dan jayalah Indonesia. –Ndt--

 

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment